8 Ciri Aplikasi Penghasil Uang Penipu
Setiap tahun ada aplikasi penghasil uang baru yang ramai, lalu hilang membawa saldo penggunanya. Kominfo rutin memblokir aplikasi yang terindikasi penipuan, tapi selalu ada yang baru. Delapan ciri di bawah ini bisa Anda pakai untuk menyaring sebelum menaruh waktu atau uang.
1. Diminta bayar dulu untuk bisa bekerja
Ini ciri paling jelas dan paling sering. Bentuknya bermacam-macam: "biaya pendaftaran", "biaya aktivasi akun", "deposit jaminan", atau "upgrade member agar bisa ambil tugas lebih banyak".
Prinsipnya sederhana: pekerjaan yang benar membayar Anda, bukan sebaliknya. Tidak ada pemberi kerja sah yang meminta uang di depan sebagai syarat bekerja.
2. Saldo tidak bisa ditarik sampai bayar "biaya penarikan"
Variasi paling jahat dari nomor 1. Anda dibiarkan bekerja berminggu-minggu, saldo terlihat menumpuk, lalu saat menekan tarik tunai muncul syarat baru: bayar sekian persen dulu.
Ini dirancang supaya Anda merasa sayang meninggalkan saldo yang sudah terkumpul. Padahal saldonya cuma angka di layar. Begitu Anda bayar, akan muncul syarat berikutnya.
3. Menjanjikan penghasilan besar dari pekerjaan sangat ringan
"Rp 500.000 per hari cukup klik iklan." "Jutaan sebulan cuma nonton video."
Pikirkan dari sisi bisnisnya: dari mana uang itu berasal? Kalau tidak ada pihak yang jelas membayar untuk pekerjaan tersebut, uangnya pasti berasal dari setoran pengguna baru — dan itu skema piramida yang pasti runtuh.
4. Penghasilan bergantung pada mengajak orang, bukan pada pekerjaan
Program referral itu wajar dan banyak platform sah memilikinya. Yang tidak wajar adalah kalau satu-satunya cara menghasilkan uang berarti adalah merekrut orang baru, sementara pekerjaan aslinya membayar sangat kecil.
Bedakan: referral sebagai bonus tambahan itu normal. Referral sebagai sumber penghasilan utama itu tanda bahaya.
5. Tidak jelas siapa pemiliknya
Cek apakah ada nama badan usaha, alamat kantor yang bisa dicari di peta, nomor telepon yang bisa dihubungi, dan email dengan domain sendiri.
Platform yang hanya punya akun Telegram anonim tanpa identitas apa pun tidak punya yang bisa dimintai pertanggungjawaban saat bermasalah. Mereka bisa hilang kapan saja tanpa jejak.
6. Meminta data yang tidak masuk akal
Untuk mentransfer uang ke Anda, sebuah platform butuh nomor rekening dan nama pemilik. Itu saja.
Yang tidak masuk akal diminta:
- Kode OTP — tidak pernah, dalam kondisi apa pun, untuk alasan apa pun
- PIN ATM atau password m-banking
- Foto selfie sambil memegang KTP dan kartu ATM sekaligus
- Akses penuh ke akun media sosial Anda beserta passwordnya
Data seperti itu dipakai untuk mengambil alih rekening atau mendaftarkan pinjaman online atas nama Anda.
7. Tidak ada bukti pembayaran yang bisa diverifikasi
Tangkapan layar "bukti transfer" mudah sekali dipalsukan. Yang lebih meyakinkan adalah adanya komunitas pengguna yang bisa Anda tanyai langsung, riwayat yang bisa ditelusuri, dan platform yang sudah berjalan cukup lama dengan nama yang sama.
Cari juga ulasan di luar kanal resmi mereka. Platform penipu biasanya hanya punya testimoni di kanal yang mereka kendalikan sendiri.
8. Tekanan waktu dan rasa takut ketinggalan
"Kuota member tinggal 20 lagi." "Promo hari ini saja." "Harga naik besok."
Tekanan waktu dipakai supaya Anda tidak sempat berpikir atau mencari informasi pembanding. Tawaran yang benar-benar baik tidak akan hangus kalau Anda menundanya sehari untuk memeriksa dulu.
Cara memeriksa sebelum mendaftar
- Cari nama platform + kata "penipuan" di Google. Lima menit yang bisa menyelamatkan berminggu-minggu kerja sia-sia.
- Cari alamat kantornya di Google Maps. Ada atau tidak.
- Coba tarik saldo pertama sekecil mungkin. Jangan menunggu saldo besar untuk mencoba penarikan pertama. Uji dulu selagi taruhannya kecil.
- Jangan pernah bayar apa pun sebelum Anda pernah menerima uang dari mereka.
Kami juga tidak menjanjikan penghasilan tetap. Alasannya ada di artikel Berapa Penghasilan Komentator Buzzer.
Kalau sudah terlanjur jadi korban
- Hentikan semua pembayaran. Jangan menambah uang dengan harapan menarik yang sudah masuk.
- Kalau data rekening atau OTP sempat diberikan, segera hubungi bank Anda dan blokir kartu.
- Laporkan ke lapor.go.id atau aduankonten.id.
- Ganti password akun-akun yang datanya sempat dibagikan.